Minggu, 18 April 2021

Hari 108

Nelson
Dia merantau ke kota ini 13 tahun yang lalu. Harapannya sangat besar untuk menaikkan taraf kehidupannya. Dia berjuang mulai dari hal yang paling kecil. Dia memungut rupiah yang tidak diinginkan orang. "Tak apa. Toh aku melakukannya dengan jalan yang benar" katanya sambil memandangi langit - langit kamarnya. 

Dia lulus dari sekolah keguruan. Kecintaannya pada anak kecil membawanya ke dunia Sekolah Dasar. Tetapi jauh di lubuk hatinya, bermain dan belajar bersama anak di Taman Kanak-Kanak adalah kebahagiaanya. "Tapi seumur hidupku, ga pernah ada guru TK yang cowok" kataku.

Dia masih nanar memandangi langit kamar indekosnya. "Ya begitulah budaya kita. Orang masih memandang bahwa semua pria dewasa adalah paedofil". Dia tidak bisa menyalahkan nilai masyarakat yang berkembang. Dia tidak mau mengambil peran yang lebih besar untuk kebahagiaannya menjadi guru TK. 

Dia melanglang buana dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain. "Trus apa yang kau cari?" tanyaku.

"Sekarang? Ga tau, jalani aja dulu"

---

Mawar
Aku tak mengenalmu, bahkan kita tidak pernah berkenalan langsung. Di tengah teriknya matahari pulau ini, aku melewati tempat dirimu menghembuskan nafas terakhir. Di atas aspal hitam dan mungkin panas. Aku tau Tuhan punya caraNya sendiri menjemput ciptaanNya. Aku tidak tau apa rencana Tuhan untuk kita semua. Aku tidak tau Tuhan mau mengajarkan aku, abang ojek atau abang yang tubuhnya bercat silver tentang momenmu hari ini. 

Aku tidak tau pernah berpapasan denganmu di masa lalu atau tidak. Tapi semoga keluargamu ikhlas. Semoga damai surga menyambutmu, itupun jika kau percaya surga. Atau damai menyambutmu di kehidupan berikutnya. 

Selamat Jalan, Mawar.

---

Manusia dipercaya mahluk pintar
Kita menciptakan banyak teknologi
Membaca gempa
Membaca gunung meletus
Bahkan membaca kepintaran orang lain
Tau yang baik dan yang buruk

Tapi kenapa kita sering celaka?
Bahkan lebih banyak mencelakai diri sendiri.

Kamis, 23 Februari 2017

Proyek Syukur #2

Menjadi berharga dan dihargai bukan masalah angka atau uang. Sebuah ketulusan menjadi hal yang paling membuat manusia dihargai melebihi angka dan uang.

Terima kasih untuk sebuah ketulusan yang telah dikirimkan ke saya. Hanya doa yang bisa saya kirimkan sebagai balasan Bu.

Senin, 02 Januari 2017

Proyek Syukur #1


Untuk memulai tahun ini, saya bersyukur atas sebuah berkat yang diberikan kepada Bapak. Sebuah umur baru di tahun ini. Semoga bahagia dan sehat menyertai Bapak (dan Mamak juga).

Selamat Ulang Tahun Pak!


Hi 2017

You have to let magic take space in your life

2016 sudah berlalu bersama semua hal yang telah diperjuangkan yang sekarang tak lebih hanya sebuah memori. Memori yang seharusnya tak tinggal hanya memori tetapi juga pembelajaran yang memuliakan kita.

2017. I just want to let magic take space in my life. 

Minggu, 01 November 2015

.

Traveling is not about distance. Traveling is about how far you learn yourself.

Buat saya itulah yang membuat saya rela pergi meninggalkan kuburan ari - ari saya. Mengenal diri saya lebih jauh.

Sewaktu kuliah, saya sangat iri terhadap teman yang pergi ke luar negeri. Saat itu saya hanya bertekad, suatu waktu saya punya uang, saya akan menapaki setiap centimeter bumi ini.

Setelah bekerja dan punya uang sendiri, ya, saya melakukan perjalanan - perjalanan mengunjungi tempat yang sekiranya saya suka. Apa yang saya dapat? Hanya kompetitif yang berlebihan. Ingin foto disini dan disitu, ingin posting ini dan itu di media sosial, ingin dicomment di media sosial "wah bagus banget no, ini dimana?"atau semacam "duh enak banget sih no, kerjanya jalan mulu". Ingin dikenal sebagai TRAVELER. Saya pernah melakukannya.

Apa yang saya dapat? Ya bahagia, ya pengakuan dari orang - orang. Tapi bertahan lama? Enggak. Ya habis masa fotonya ya habislah sudah periode kebahagiaannya. Kemudian mencari lagi, kemudian mencari perhatian lagi, kemudian habis, kemudian mencari lagi, terus hingga usang.

Sementara ada begitu banyak pembicaraan dengan orang - orang yang saya temui diperjalanan, yang tidak terekam dalam di memory card, tertanam begitu saja di otak. Ada begitu banyak senyuman orang yang ramah menjawab pertanyaan arah berlalu begitu saja. Ada begitu banyak ekspresi pedagang makanan yang berbeda bahasa berusaha menjelaskan makanan pada saya, yang dipilih untuk dilupakan. Ada ekspresi temen seperjalanan yang mungkin terlewat begitu saja.

Saya belajar mengenal diri saya sendiri yang tidak terlalu menghargai hal kecil di hadapan saya. Saya masih belajar menghargai. Menghargai lingkungan, orang - orang, alam, bahkan menghargai diri sendiri. Saya belum mengetahui banyak hal, setidaknya untuk saat ini, inilah yang saya pelajari.

Minggu, 25 Oktober 2015

Teaser

Menurut saya, saya adalah orang yang paling susah berkomitmen dan saya tidak suka rutinitas. Tapi sudah kurang lebih 3 tahun saya mengerjakan sesuatu yang rutin. Ya di kantor saya, saya (terpaksa) orang yang sangat rutin. Saya mengerjakan pekerjaan bulanan bahkan saya memantau pergerakan aplikasi harian. Itu tidak pernah ada dalam daftar saya, mungkin kalau bukan karena pekerjaan dan digaji tentunya tidak akan pernah terjadi dalam hidup saya. 

Yang paling rutin dalam hidup saya yang pernah saya lakukan adalah makan, bernafas, buang air dan bergerak. Walaupun itu semuanya random. 

Saya perlu melakukan sesuatu dalam hidup ini secara rutin tanpa dipaksa orang lain. Saya harus memaksa diri saya melakukan sebuah rutinitas. 

Blogging every week. Saya harus menulis cerita apa saja setiap minggu. Apa saja.

See you every week.

Jumat, 26 Juni 2015

Peluk Aku Sekarang

Alexa : Untuk semua alasan dapat bertahan hidup di dunia yang pahit ini, kita sering membuat kesenangan – kesenangan instan dan palsu. Sebegitu egoisnya orang – orang di dunia ini sehingga kegembiraan pun harus dibuat instan.

Geraldine: Hmmmm

Alexa : Dengerin dulu. Contohnya kemarin malam, sehabis ngantor kamu nelpon aku kan? Aku lagi stress nih sayang, makan La Mian yuk. Waktu aku nanya, bukannya kamu lagi diet? Trus kamu jawab, ga apa – apalah. Toh aku pengen senang – senang setelah exit meeting seharian yang bikin pusing. Nah, di titik ini, kamu sudah menginstankan kebahagiaan. Kamu berharap hanya dengan semangkuk mie hangat dengan kaldu babi akan dapat menghilangkan keruwetan pikiran kamu.

Geraldine: I feel happy for that a bowl of happiness anyway.

Alexa: Is it stay longer? Or just until you pay the bill?  Even when you ate the what-so-your-happiness-bowl, you still talk about your what-so-your-terrible-exit-meeting kan?

Geraldine : Iya sih. Tapi setidaknya aku bisa membahagiakan diriku at least sampai that my-oh-so-delicious-bowl-happiness habis.

Alexa : Nah! Ini dia. Kamu mendewakan lamian kamu untuk short time happiness.  Instan kan? Besok – besok kalau kamu mau bahagia, kamu mau nyari apa?


Geraldine : Aku nyari kebahagiaan dalam pelukanmu ajalah.