Terima kasih untuk sebuah ketulusan yang telah dikirimkan ke saya. Hanya doa yang bisa saya kirimkan sebagai balasan Bu.
Kamis, 23 Februari 2017
Proyek Syukur #2
Menjadi berharga dan dihargai bukan masalah angka atau uang. Sebuah ketulusan menjadi hal yang paling membuat manusia dihargai melebihi angka dan uang.
Senin, 02 Januari 2017
Proyek Syukur #1
Untuk memulai tahun ini, saya bersyukur atas sebuah berkat yang diberikan kepada Bapak. Sebuah umur baru di tahun ini. Semoga bahagia dan sehat menyertai Bapak (dan Mamak juga).
Selamat Ulang Tahun Pak!
Hi 2017
You have to let magic take space in your life
2016 sudah berlalu bersama semua hal yang telah diperjuangkan yang sekarang tak lebih hanya sebuah memori. Memori yang seharusnya tak tinggal hanya memori tetapi juga pembelajaran yang memuliakan kita.
2017. I just want to let magic take space in my life.
Minggu, 01 November 2015
.
Traveling is not about distance. Traveling is about how far you learn yourself.
Buat saya itulah yang membuat saya rela pergi meninggalkan kuburan ari - ari saya. Mengenal diri saya lebih jauh.
Sewaktu kuliah, saya sangat iri terhadap teman yang pergi ke luar negeri. Saat itu saya hanya bertekad, suatu waktu saya punya uang, saya akan menapaki setiap centimeter bumi ini.
Setelah bekerja dan punya uang sendiri, ya, saya melakukan perjalanan - perjalanan mengunjungi tempat yang sekiranya saya suka. Apa yang saya dapat? Hanya kompetitif yang berlebihan. Ingin foto disini dan disitu, ingin posting ini dan itu di media sosial, ingin dicomment di media sosial "wah bagus banget no, ini dimana?"atau semacam "duh enak banget sih no, kerjanya jalan mulu". Ingin dikenal sebagai TRAVELER. Saya pernah melakukannya.
Apa yang saya dapat? Ya bahagia, ya pengakuan dari orang - orang. Tapi bertahan lama? Enggak. Ya habis masa fotonya ya habislah sudah periode kebahagiaannya. Kemudian mencari lagi, kemudian mencari perhatian lagi, kemudian habis, kemudian mencari lagi, terus hingga usang.
Sementara ada begitu banyak pembicaraan dengan orang - orang yang saya temui diperjalanan, yang tidak terekam dalam di memory card, tertanam begitu saja di otak. Ada begitu banyak senyuman orang yang ramah menjawab pertanyaan arah berlalu begitu saja. Ada begitu banyak ekspresi pedagang makanan yang berbeda bahasa berusaha menjelaskan makanan pada saya, yang dipilih untuk dilupakan. Ada ekspresi temen seperjalanan yang mungkin terlewat begitu saja.
Saya belajar mengenal diri saya sendiri yang tidak terlalu menghargai hal kecil di hadapan saya. Saya masih belajar menghargai. Menghargai lingkungan, orang - orang, alam, bahkan menghargai diri sendiri. Saya belum mengetahui banyak hal, setidaknya untuk saat ini, inilah yang saya pelajari.
Buat saya itulah yang membuat saya rela pergi meninggalkan kuburan ari - ari saya. Mengenal diri saya lebih jauh.
Sewaktu kuliah, saya sangat iri terhadap teman yang pergi ke luar negeri. Saat itu saya hanya bertekad, suatu waktu saya punya uang, saya akan menapaki setiap centimeter bumi ini.
Setelah bekerja dan punya uang sendiri, ya, saya melakukan perjalanan - perjalanan mengunjungi tempat yang sekiranya saya suka. Apa yang saya dapat? Hanya kompetitif yang berlebihan. Ingin foto disini dan disitu, ingin posting ini dan itu di media sosial, ingin dicomment di media sosial "wah bagus banget no, ini dimana?"atau semacam "duh enak banget sih no, kerjanya jalan mulu". Ingin dikenal sebagai TRAVELER. Saya pernah melakukannya.
Apa yang saya dapat? Ya bahagia, ya pengakuan dari orang - orang. Tapi bertahan lama? Enggak. Ya habis masa fotonya ya habislah sudah periode kebahagiaannya. Kemudian mencari lagi, kemudian mencari perhatian lagi, kemudian habis, kemudian mencari lagi, terus hingga usang.
Sementara ada begitu banyak pembicaraan dengan orang - orang yang saya temui diperjalanan, yang tidak terekam dalam di memory card, tertanam begitu saja di otak. Ada begitu banyak senyuman orang yang ramah menjawab pertanyaan arah berlalu begitu saja. Ada begitu banyak ekspresi pedagang makanan yang berbeda bahasa berusaha menjelaskan makanan pada saya, yang dipilih untuk dilupakan. Ada ekspresi temen seperjalanan yang mungkin terlewat begitu saja.
Saya belajar mengenal diri saya sendiri yang tidak terlalu menghargai hal kecil di hadapan saya. Saya masih belajar menghargai. Menghargai lingkungan, orang - orang, alam, bahkan menghargai diri sendiri. Saya belum mengetahui banyak hal, setidaknya untuk saat ini, inilah yang saya pelajari.
Minggu, 25 Oktober 2015
Teaser
Menurut saya, saya adalah orang yang paling susah berkomitmen dan saya tidak suka rutinitas. Tapi sudah kurang lebih 3 tahun saya mengerjakan sesuatu yang rutin. Ya di kantor saya, saya (terpaksa) orang yang sangat rutin. Saya mengerjakan pekerjaan bulanan bahkan saya memantau pergerakan aplikasi harian. Itu tidak pernah ada dalam daftar saya, mungkin kalau bukan karena pekerjaan dan digaji tentunya tidak akan pernah terjadi dalam hidup saya.
Yang paling rutin dalam hidup saya yang pernah saya lakukan adalah makan, bernafas, buang air dan bergerak. Walaupun itu semuanya random.
Saya perlu melakukan sesuatu dalam hidup ini secara rutin tanpa dipaksa orang lain. Saya harus memaksa diri saya melakukan sebuah rutinitas.
Blogging every week. Saya harus menulis cerita apa saja setiap minggu. Apa saja.
See you every week.
Jumat, 26 Juni 2015
Peluk Aku Sekarang
Alexa : Untuk semua alasan dapat bertahan hidup di dunia yang
pahit ini, kita sering membuat kesenangan – kesenangan instan dan palsu. Sebegitu
egoisnya orang – orang di dunia ini sehingga kegembiraan pun harus dibuat
instan.
Geraldine: Hmmmm
Alexa : Dengerin dulu. Contohnya kemarin malam, sehabis ngantor
kamu nelpon aku kan? Aku lagi stress nih sayang, makan La Mian yuk. Waktu aku
nanya, bukannya kamu lagi diet? Trus kamu jawab, ga apa – apalah. Toh aku
pengen senang – senang setelah exit meeting seharian yang bikin pusing. Nah, di
titik ini, kamu sudah menginstankan kebahagiaan. Kamu berharap hanya dengan
semangkuk mie hangat dengan kaldu babi akan dapat menghilangkan keruwetan
pikiran kamu.
Geraldine: I feel happy for that a bowl of happiness anyway.
Alexa: Is it stay longer? Or just until you pay the bill? Even when you ate the what-so-your-happiness-bowl, you still talk about your what-so-your-terrible-exit-meeting kan?
Geraldine : Iya sih. Tapi setidaknya aku bisa membahagiakan diriku
at least sampai that my-oh-so-delicious-bowl-happiness habis.
Alexa : Nah! Ini dia. Kamu mendewakan lamian kamu untuk short
time happiness. Instan kan? Besok –
besok kalau kamu mau bahagia, kamu mau nyari apa?
Geraldine : Aku nyari kebahagiaan dalam pelukanmu ajalah.
Entah Sampai Kapan?
Bumi sudah begitu lama merindu hujan
Tetapi dia punya harga diri yang harus ditegakkan
---
Hujan seperti meledak rasanya, rasa rindu sudah mengguncang
Tetapi hujan terlalu sombong untuk datang.
---
Hujan seperti meledak rasanya, rasa rindu sudah mengguncang
Tetapi hujan terlalu sombong untuk datang.
---
"Dia yang butuh aku, kenapa harus bermurah hati?"
---
"Sebegitu lemahnya aku, sampai harus menghampiri?"
---
Entah sampai kapan.
---
Langganan:
Postingan (Atom)
